Skip to content

Updates! Yuk ayukkk… Kita Bebersih Bersama

Acara: Jakarta Clean Project
Kapan: Minggu, 2 November 2014
Di: Museum Fatahilah – Kawasan Kota Tua

Ini adalah acara yang dijalankan oleh salah satu teman Path saya. Acara kedua. Acara pertama di akhir bulan September lalu.

Ayo… Kita bersihkan sama-sama Jakarta

IMG_4681.JPG

Berbagi Pengetahuan

Di saat kita berkeluh kesah akan hidup kita yang jelek nasibnya di Jakarta ini, mereka yang di Sumba baru saja mendapatkan listrik dengan teknologi buatan sendiri. Kesempatan membaca mereka terbatas karena kurangnya buku berkualitas. Mereka bersekolah tanpa sepatu.

Apakah pantas kita berkeluh kesah dibandingkan mereka?

Ataukah kita pantas bersyukur bahkan membantu mereka dalam membuka diri mereka dalam pengetahuan.

Buku2 yang bagi kalian tak berguna mungkin sangat berguna bagi mereka. Masih ada waktu hingga akhir bulan ini.

Berbagi untuk mereka. Berbagi untuk Indonesia yang lebih baik. – at Jakarta Barat

View on Path

Gaya

Bener gak nih??? Bagi yang #jleb ada baiknya berpikir ulang termasuk saya sih. Hahahaha.

#repath – at Sinarmas Land Plaza Tower 2

View on Path

Menulis itu….

Jadi… Setelah sekian lama tidak menulis tangan langsung dalam bentuk surat menyurat, minggu lalu saya menulis beberapa kartu pos untuk dikirimkan kepada yang ikutan Oleh-oleh dari Liberia.

Dan ternyata….
Saya itu bingung. Apa sih yang ditulis dalam sebuah kartu pos? Kayaknya dah lama banget gak nulis di kartu pos. Jadi bingung.

Bahkan saya tanya ke teman saya. Perlu gak saya tulis alamat pengirimnya. Jadi bagi yang menerima kartu posnya nanti, maaf ya kalau agak-agak singkat dan aneh isi tulisannya.

Terus selain itu… Sudah lama saya gak nulis surat (kalau boleh saya kategorikan nulis di kartu pos juga salah satu bentuk surat menyurat) dengan tulisan tangan sendiri.

Yup…
Dengan kemajuan jaman sekarang ini, saya lebih sering menulis di email atau blog seperti ini. Yang ke semuanya menggunakan smartphone (yang saya pakai untuk upload blog sekarang ini) untuk menulisnya. Jadi tinggal tik tik tik (bukan hujan ya) dan kata demi kata tertulis.

Nulis pakai tulisan tangan itu ternyata melelahkan juga ya. Hahahaha. Dah gitu kemarin saya perhatikan tulisan tangan saya makin lama semakin tak jelas dan semakin menanjak. Naik-naik ke puncak gunung.

Jadi ingat pas SD memang sering dikomentari seperti itu oleh guru saya. Namun saat itu saya masih sanggup untuk mengarang bebas pas pelajaran Bahasa Indonesia sampai 3 halaman ukuran folio bolak balik.

Mungkin memang saya sudah saatnya mulai membiasakan lagi menulis tangan yang agak panjang. Kalau di kantor menulis tangan di buku pun hanya point-point hasil meeting yang saya harus follow up.

Adakah teman yang merasakan hal yang sama? Entah kartu pos, surat menyurat biasa atau apapun itu.

Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Lelaki tua di tengah gerimis

Lelaki Tua di Tengah Gerimis Sumber: Dokumentasi Pribadi Rinrin Indrianie

Jalanan basah masih terlihat olehku dari sudut warung kopi ini. Di seberang sana sebuah toko dengan beragam kerajinan tangan tampak lengang pembeli. Kuambil lagi sepotong pisang goreng hangat yang dihidangkan pemilik warung.

Baru saja aku menggigit pisang goreng itu saat kulihat seorang lelaki tua berbaju biru yang lepek lewat. Dia menuntun sepeda ontel yang penuh dengan jerami kering. Dari jauh, wajahnya seperti sedang menyeringai. Bahagia sekali. Dan entah kenapa, aku jadi tertarik ingin memperhatikannya terus.

Lelaki tua itu berjalan lambat. Mungkin kelelahan, pikirku. Caping yang dipakainya masih meneteskan beberapa butiran air hujan. Sepertinya dia menerobos hujan gerimis tadi. Ah, tak ada salahnya aku menawarkan segelas kopi atau teh hangat kan? Aku pun berdiri keluar warung kopi, menyebrang jalan.

“Kek,… “ lelaki tua itu menghentikan langkahnya, menatapku kebingungan. “Kakek sepertinya lelah. Ayo… kita ke warung itu. istirahat dan ngupi sejenak.” Dia menatap warung yang kutunjuk. Diam sejenak dan kemudian menggelengkan kepalanya.

Lelaki tua itu hendak meneruskan langkahnya lagi, namun kutahan.

“Ayolah kek. Istirahat sebentar saja tak masalah kan? Saya yang bayar kok. Dan tenang saja, saya tidak ada maksud apa-apa. Hanya kasihan melihat kakek kelelahan dan juga kebasahan seperti itu.” aku mencoba membujuknya.

Lelaki tua itu memang kembali menghentikan langkahnya. Menatapku sejenak. Melempar senyuman dengan bibirnya yang sudah mulai kempot tanpa gigi. Namun aku kembali mendapatkan gelengan darinya.

“Tak apa anak muda. Terima kasih banyak atas tawaranmu. Tapi maaf tidak dapat saya terima.” Ujarnya.

Aku pun berusaha berpikir lagi untuk mengajaknya duduk. Aku yakin kisah lelaki tua ini banyak dan mengesankan. Aku ingin sekali mendengar kisah-kisahnya.

“Kakek tak usah khawatir kek. Saya hanya ingin membantu kakek melepaskan penat dan juga menghangatkan tubuh setelah gerimis tadi. Duduk sejenak hingga pakaian kakek kering agar kakek tak sakit.”

Lagi-lagi lelaki tua itu menggelengkan kepala. Dia menuntun ontelnya kembali dan melangkah.

“Kek, kalau kakek tak lelah, tak mungkin kakek menuntun sepeda kakek kan? Bannya tidak bocor. Jadi ayolah. Istirahat sebentar.”

Lelaki tua itu terdiam. Lalu dia menuntun mundur ontelnya mendekatiku.

“Bukan begitu anak muda. Saya berterima kasih banyak atas tawaranmu. Tapi saya tidak bisa. Saya…” dia diam sejenak menatapku lekat. “Saya takut kalau duduk, bisul saya di pantat akan pecah. Makanya saya menuntun sepeda ini dari tadi.”

Untuk MFF Prompt 65: Lelaki Tua di Tengah Gerimis

Born, Live and Die

Good morning Jakarta.
Lets have a great day – at Plaza BII Tower 2

View on Path

Tadi pagi berjalan dari Thamrin Kav 1 ke kantor… dan dikarenakan sedang adanya pembangunan MRT, jembatan penyebrangan tepat di depan kantor pun menghilang, demikian juga yang di depan Plaza Indonesia. Tapi digantikan dengan jembatan yang lebih mendekat ke Bundaran HI. Sungguh menyenangkan karena jadi bisa foto Bundaran HI dengan lebih baik.

Sedangkan quote itu entah kenapa dari semalam terpikirkan…

Kita ini dilahirkan

Menjalani kehidupan

Suatu saat akan meninggal

Itulah kehidupan kan? Lahir – Hidup – Mati

Kapan kita akan meninggal? Tak ada yang tahu. Karenanya.. kita hendaknya menjalani kehidupan ini, saat ini, dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai ada sesal yang dibawa nantinya. Dan tinggalkan warisan terbaik yang dapat kita berikan kepada mereka.

Have a great day all.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,978 other followers