Skip to content

[Fiksi] Kembali Padamu

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! 

Hujan baru saja menyapa pagiku. Wangi tanah bercumbu dengan air selalu membawa diriku ke dalam kenangan-kenangan lama. Bukan kenangan yang memang untuk dilupakan, tapi kenangan yang membawaku ke dalam ketenangan dan memberi kekuatan dalam diriku selama ini. Aku pun mengambil secangkir kopi yang baru saja aku siapkan. Aroma kopi semakin membawaku ke dalam kenangan, khususnya sebuah kenangan di Nusa Dua.

Nusa Dua, 20 September 2010

“Ayo… Nanti kita ditinggal sama yang lain!” teriak Mindi seraya menarik tanganku, untung aku berhasil menarik kamera digital kesayanganku. Sayang rasanya jika berkeliaran di Pulau Dewata tanpa kamera untuk mengabadikannya. Pasir putih dan puluhan orang lainnya telah menanti kami di titik temu yang telah diumumkan kemarin. Hari ini adalah hari pelepasan kura-kura di pantai putih ini.

Pantai di The Pirate Bay, salah satu restaurant di resort Balibay ini memang sangat indah, dan airnya yang bening sangat cocok untuk dijadikan tempat pelepasan kura-kura. Semua peserta dapat melihat kura-kura yang dilepaskannya dengan mudah. Sebenarnya acara pelepasan kura-kura seperti ini pernah aku ikuti di salah satu pantai di daerah Jawa Barat, namun atmosfer di pantai ini sangatlah membuat acara kali ini lebih berbeda.

Sebelum melepas, pemandu memberikan beberapa informasi mengenai kura-kura yang akan kami lepaskan di depan sebuah kapal yang menjadi ciri khas tempat ini juga. Aku pun mendengarkan informasi itu seraya mengarahkan kameraku ke berbagai penjuru pantai di hadapanku itu.

Okay… that’s a short story about the turtles. Now… we are gonna set them free. Let them go home with their love ones. Coz, everyone in this world deserves to be with their love ones. Together, forever.” Pemandu itu pun mengakhiri kisahnya dengan memberikan kami sebuah kotak kecil masing-masing berisikan satu kura-kura. Aku menolak menerima kotak itu dengan alasan ingin mengabadikan acara ini lewat kameraku.

Pelepasan kura-kura pun dilakukan bersama-sama. Mindi, yang sangat antusias dengan acara ini semenjak kami menginjakkan kaki di Nusa Dua, terlihat tak seceria biasanya. Aku pun mengarahkan kameraku dan zoom pada wajahnya. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Aku pun segera menangkap ekspresinya melalui kameraku. Mindi, si gadis tegar… bukanlah Mindi yang baru saja kulihat dari balik kameraku ini.

Setelah acara itu selesai, kami berpose bersama di depan kapal dan kemudian diakhiri dengan santap siang di The Pirate Bay. Aku memesan Grilled Baracuda sedangkan Mindi memesan Calamary and Chips. Keduanya sangat lezat ditambah dengan layanan super dari para pelayan berpakaian perompak membuat kami puas.

“Gak rugi kan ke sini?” tanya Mindi kepadaku.

“Iya… gak rugi. Apalagi bisa melihat the other side of Mindi.” Ujarku sambil tersenyum. Mindi agak terkejut mendengar ucapanku.

Other side? What do you mean?” Aku pun menyalakan kameraku dan menunjukkan hasil fotoku tadi.

“Gak sangka Min. Cewek tomboy – suka jutek ke orang lain kayak lo bisa juga terharu di acara tadi.”

Mindi terkekeh mendengar ucapanku. “Ah itu mah gw sengaja kok. Gw tahu lo lagi foto gw.”

“Boong aja lo. Gak usah malu ma gw mah.”

Mindi hanya diam tak menjawab ledekanku lagi. Dia memandang pantai yang terpampang indah di hadapannya itu. Entah apa yang dipikirkannya. Aku pun melanjutkan keasyikanku dengan Banana Foster yang luar biasa nikmat menyegarkan itu.

“Ben, apa yang membuat lo bahagia?”

Pertanyaan tiba-tiba itu membuatku terdiam, kulihat Mindi serius menatapku menunggu jawaban.

“Kenapa lo tiba-tiba tanya itu?” Aku berusaha mengulur waktu untuk menjawab pertanyaannya itu.

“Gak apa-apa. Itu pertanyaan mudah kan. Boleh dong gw tahu.”

“Hmmm… apa ya?” Aku menirukan gaya pose The Thinker yang terkenal itu. Bukan… bukan untuk menggoda Mindi tapi memang pertanyaannya itu membuatku berpikir. “I think… mengerjakan apa yang gw suka dan berhasil dalam mengerjakannya, itu yang membuat gw bahagia.”

Have you?” tanya Mindi menyelidik.

Aku hanya menggelengkan kepalaku sedikit. Memang itulah kenyataannya, pekerjaanku sekarang sebagai salah satu manajer termuda di sebuah bank swasta bukanlah yang kuinginkan sebenarnya.

“Terus kenapa lo gak mengejar kebahagiaan lo itu Ben? I mean, if you’re not happy, why don’t you chase your happiness?”

“Gw gak tahu Min. Rasanya dah terlalu nyaman aja gw sekarang ini, walaupun terkadang gw suka mengeluh tentang kerjaan gw, terutama ke lo. Tapi pekerjaan gw ini dah gw jalanin hampir 7 tahun. Kalau melepaskannya juga sayang kan.” Aku pun menatap tak berselera lagi ke Banana Foster yang tadi menggoda sekali seraya menghela nafasku. Mungkin jika bukan Mindi, orang yang mendengar keluhan tentang pekerjaanku akan menganggap diriku ini sangat tak bersyukur.

“Lo sendiri gimana Min?” tanyaku sembari berusaha menghilangkan kegalauan hati karena pertanyaannya tadi.

“Gw? Kebahagiaan gw adalah saat orang di sekitar gw bahagia dengan keberadaan gw. That’s all.” Jawab Mindi segera dengan lancar yang diiringi dengan senyuman lebar. “Ben, gak ada kata terlambat untuk mencari kebahagiaan. Selanjut-usia apapun, kebahagiaan itu pantas untuk dicari.”

***

Dan kini, di sinilah aku. Di salah satu apartment mewah di kota ramai yang terkenal dengan julukan Big Apple ini. Menghirup aroma kopi yang sengaja dikirimkan Mindi setiap bulannya bersama dengan panganan khas Indonesia yang tak dapat kutemukan di sini. Perubahan besar terjadi setelah perbincangan singkat kami itu. Aku mengundurkan diri dari perusahaan tempatku bekerja setelah aku bicara dengan seluruh anggota keluargaku. Alasannya aku ingin memulai usahaku sebagai fotografer, satu hal yang memang aku sangat sukai.

Awalnya mereka memang tidak setuju bahkan mengatakan aku ini bodoh. Tapi tekad bulatku saat itu membuat ibuku, yang merupakan kepala keluarga semenjak almarhum ayah meninggal, akhirnya merestui keinginanku itu. Bagiku restu ibu tentu segalanya. Segera setelah mendapatkan restu itu, aku pun mengajukan pengunduran diri dan mulai memperdalam teknik fotografi.

Perjalananku menjadi fotografer terkenal pun tidak mudah. Pada awalnya banyak penolakan aku terima saat mengajukan proposal rekanan ke berbagai Wedding Organizer ataupun ke perusahaan Advertising. Aku masih ingat saat Mindi duduk menemaniku di tengah malam di bilangan Jakarta Selatan karena aku frustasi tidak berhasil mendapatkan rekanan.

“Ben, mengejar kebahagiaan itu tak pernah mudah. Gak ada yang bilang mudah kok. Kalau memang mudah, gw yakin, seluruh orang di dunia ini bahagia.” Ujar Mindi malam itu. “Tapi kalau lo berhenti sekarang, lo gak akan merasakan kebahagiaan itu sama sekali. Tapi yah… semua kembali ke lo Ben. Apapun yang lo lakukan, gw akan dukung.”

Malam itu dilanjutkan dengan keheningan di antara kami berdua. Kami hanya duduk menatap wajah malam Jakarta. Tapi ucapan Mindi tentu tak pernah aku lupakan. Dan ucapannya itu membuatku terus berusaha. Satu demi satu portofolio hasil foto kutambah dan aku pun mulai dilirik. Rekanan pun mulai berdatangan.

Ben Mahardika Mulyono mulai dikenal sebagai salah satu fotografer berbakat. Di luar memenuhi keinginan rekananku, aku terus mengembangkan street photography sebagai ciri khasku. Aku pun berkeliling Indonesia untuk mulai mengenalkan Indonesia dari sisi ‘jalanan’nya ke seluruh dunia. Dan akhirnya dua tahun lalu aku pun menginjakkan kakiku di Amerika Serikat atas undangan beberapa galeri ternama untuk mempertunjukkan hasil fotografiku tentang Indonesia itu.

Pertunjukkan hasil karya fotoku kemarin malam pun terbilang sukses. Banyak pengunjung yang terkesima dengan hasil karyaku itu dan aku pun diundang kembali untuk turut serta dalam pameran di sebuah galeri di London.

“Selamat ya Ben. Super duper acaranya.” Begitu pesan yang kuterima di twitter-ku dari Mindi. “Ditunggu foto-foto acara berikutnya di London.”

Sebuah telepon masuk memberitahukan bahwa mobil yang akan membawaku ke bandara telah siap di bawah. Aku pun segera menarik tas yang telah kusiapkan dan menuju lobi. Sebuah petualangan baru akan dimulai, batinku.

***

Pesawat baru saja mendarat dengan mulus. Aku pun segera mengaktifkan telepon genggamku. Banyak pesan baru masuk yang tak kuindahkan. Segera setelah bagasi kudapatkan, aku melangkah keluar dan menghentikan sebuah taksi hitam. Kusebutkan sebuah alamat kepada supir taksi itu.

Dalam perjalanan aku pun membaca satu demi satu pesan yang kuterima dan membalas pesan itu sedapatku. Selang sejam, taksi yang membawaku pun sudah memasuki wilayah yang aku kenal dengan baik. Setelah membayar tarif taksi itu, aku melangkah mendekati sebuah rumah berpagar hitam.

Aku pun mengeluarkan telepon genggamku dan menghubungi orang yang tinggal di rumah itu.

“Halo. Tumben nih telepon. Biasanya cuma whatsapp aja.”

“Kali ini spesial. Jadi harus telepon.” Jawabku. “Lagi di mana?”

“Di rumahlah. As always.”

“Kalau gitu bisa dong keluar sebentar.”

Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu terbuka dan langkah ringan mendekat ke pagar tempatku berdiri.

“Surprise…” aku pun berteriak saat pintu pagar dibuka. Mindi hanya terdiam di balik pintu pagar yang baru dibukanya itu. Tak lama kemudian dia pun tersadar dan langsung memelukku.

“Ngapain lo di sini? Bukannya ada jadwal pertunjukkan di London?”

“Aku cancel. Ada urusan yang jauh lebih penting yang harus kulakukan.” Jawabku.

Mindi masih tampak bingung.

“Min… aku gak diijinin masuk nih?”

Mindi pun segera mengajakku masuk ke rumahnya. Setelah menyajikan minuman untukku, Mindi pun duduk di hadapanku.

“Min…” Aku menarik nafasku sejenak sebelum melanjutkan ucapanku. “Kamu ingat gak apa yang kita bicarakan di The Bay waktu itu.”

Mindi menganggukkan kepalanya.

“Dulu kamu tanya apa yang membuatku bahagia dan aku sudah menjawabnya bahkan berkat dirimu aku jadi seperti ini sekarang, bekerja dalam profesi yang kuinginkan. Beberapa tahun belakangan ini, aku berpikir tentang…” aku menghentikan ucapanku.

“Tentang???”

“Tentang kebahagiaan. Memang kebahagiaan yang kusebutkan adalah kebahagiaan yang kucari dan sudah kudapatkan sekarang ini. Namun…” aku memperbaiki letak dudukku sebelum melanjutkan ucapanku.

“Namun, aku pun menyadari bahwa ada kebahagiaan lain yang belum aku capai. Kamu masih ingat ucapan pemandu acara di pelepasan kura-kura waktu itu. Let them go home with their love ones. Coz, everyone in this world deserves to be with their love ones. Together, forever.”

Mindi menganggukkan kepalanya. “Iya, gw ingat kok”

I want to go home, like the turtles and share my life with my love. Dan jika kamu mengijinkan, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu. Maafkan aku, sekian lama baru aku menyadari arti dirimu dalam hidupku.” Aku menghela nafasku sejenak sebelum melanjutkan ucapanku. “Kamu adalah kebahagiaan dalam hidupku. Kini aku menyadarinya.”

Keheningan segera mengisi ruang tamu itu. Mindi menundukkan kepalanya, terdiam. Aku pun jadi bingung karena sejak turun dari pesawat tadi, aku sudah gugup membayangkan semua kejadian ini. Dan kini, diamnya Mindi semakin membuatku gugup. Aku pun kembali memperbaiki dudukku.

“Ben…” suara Mindi akhirnya memecah keheningan di antara kami. Dia menatapku dalam, sebuah tatapan sama seperti saat di Nusa Dua dulu saat dia bertanya tentang kebahagiaan. “Masih ingat saat gw bilang kalau kebahagiaan gw adalah menjadi sumber kebahagiaan bagi orang di sekitar gw?”

Aku pun menganggukkan kepalaku dan menanti lanjutan ucapan Mindi tadi.

“Dan gw melihat lo mengejar impian lo dan sukses seperti sekarang adalah kebahagiaan gw. Tapi…. “ Mindi terdiam sebelum melanjutkan ucapannya. Dia menghela nafasnya perlahan seperti melepas sebuah beban berat. “Tapi… ucapan lo tadi adalah yang gw nantikan sejak dulu.”

“Maksud kamu???” Aku mencoba mengklarifikasi jawabannya itu.

“Maksudku… kenapa kamu lama banget pulangnya. Aku dah menanti sejak dulu. Sejak di resto bajak laut itu.”

“Jadi….” Aku menatap Mindi yang wajahnya kini agak memerah.

***

Aku pun mencium kening Mindi, kemudian ujung hidungnya dan terakhir adalah bibir merahnya. Terdengar suara tepuk tangan dan teriakan suka cita di sekitar kami. Kami baru saja menyelesaikan janji kami di hadapan Pastur untuk selalu bersama. Dan semburat mentari yang memerah di ufuk barat seakan memberi restu kepada kami pula di The Bay yang menjadi awal segala peristiwa dalam hidupku. Awal yang baru saja kumulai bersama Mindi, sumber kebahagiaanku.

Nusa Dua, 20 September 2013

Mungkinkah? Hidup Tanpa…

what it would be if i have to live my life without you…. – random thought

Siapa yang dengar soal virus Ebola yang melanda beberapa negara di Afrika belakangan ini? Sebenarnya virus ini bukanlah virus baru. Dulu pernah juga ada beritanya. Dulu sih cuek pas dengar beritanya. Tapi sekarang, agak khawatir sih. Gimana gak, sekarang ini tinggal di Afrika, bahkan negara saya tinggal sekarang ini juga termasuk yang dilanda. Walaupun county (propinsi) yang terkena wabah masih cukup jauh dari tempat sekarang tinggal, kekhawatiran itu masih tetap ada.

Saya tidak ingin bicara soal virusnya. Tapi kejadian ini justru membawa pikiran saya ke waktu lampau. Dan saya cukup kaget sih dengan pikiran saya ini. Karena kalau dipikir-pikir, sering sekali saya merasa khawatir di dalam hidup saya. Khawatir akan nilai ujian yang tidak seperti diharapkan. Khawatir tidak dapat beasiswa yang saya idamkan. Khawatir tidak mendapatkan pekerjaan yang saya ajukan dan lainnya.

Kalau dihitung, seberapa sering kalian juga merasa khawatir? Apakah kurang dari 10 kali selama hidup ini?

Mungkin gak kalau kita hidup tanpa kekhawatiran sedikitpun, apapun yang kita lakukan, kita tak perlu deg-degan lagi di dada ini?

Setiap orang pasti punya kekhawatiran masing-masing. Saya yakin itu. Ibu khawatir saat anak-anaknya ada yang sakit. Ayah khawatir saat anak gadisnya keluar pertama kali bersama seorang pria. Pelajar khawatir nilainya jelek. Pacar khawatir pacarnya direbut orang. Pekerja khawatir kena PHK dan lainnya.

Dan menurut pendapat saya pribadi yang bukan psikolog ataupun sejenisnya, khawatir dalam hidup itu wajar. Menurut saya lagi, kalau hidup tanpa kekhawatiran itu rasanya akan jadi aneh. Datar… tak ada rasa apa-apa gitu. Kalau kata Inul kayak sayur asem tanpa garam (bener gak ya liriknya). Khawatir dalam hidup itu adalah bagian tak terpisahkan.

Kekhawatiran itu justru membuat kita semakin hidup dan semakin menyadari kehidupan itu sendiri dengan lengkap. Bingung ya? Agak bingung juga sih saya menulisnya. Oke… misalnya gini. Kalau kita gak khawatir soal nilai jelek, mungkin kita akan cuek dalam belajar dan akhirnya benar-benar nilainya jelek.

Jadi ya… khawatir dalam batas wajar itu sangat penting dalam hidup. Yang penting dan perlu digarisbawahi adalah batas wajar itu tadi. Misalnya lagi, ayah khawatir akan anak gadisnya yang mulai pacaran akan kenapa-kenapa dan akan bablas pacarannya. Karenanya dia melarang anak gadisnya itu keluar dan bergaul, seperti apa kehidupan anak gadisnya itu nanti? Ini bukan batas wajar.

Salah satu sifat dasar manusia juga adalah semakin dilarang akan semakin penasaran. Jadi kalau misalnya takut pacar jelalatan ke orang lain, sampai akhirnya pacarnya itu dilarang ini itu, apakah gak mungkin pacarnya itu akan sembunyi-sembunyi melakukan apa yang dilarang itu? Dan mungkin akan lebih bahaya kan karena sembunyi-sembunyi itu, akhirnya jelalatannya jadi ruar biasa.

yah… inilah batas kewajaran yang saya maksudkan… khawatir boleh tapi jangan berlebihan. Jangan sampai jadi paranoid yang akhirnya akan melukai diri sendiri. Kenapa gak mencoba mengatasi kekhawatiran itu dengan cara yang lebih positif?

Misalnya… kalau khawatir tak dapat kerja yang diidamkan, mulailah dengan membuat rencana dari sekarang, apa jenis pekerjaan yang diinginkan, kualifikasi apa yang tepat untuk pekerjaan itu – mulailah memenuhi kualifikasi itu satu demi satu. Apakah nantinya masih gak akan dapat pekerjaan itu sendiri?

Jadi… mungkinkah hidup tanpa kekhawatiran?

If You Cry…

Ada yang pernah bilang: “Habis gelap terbitlah terang”, bahkan beberapa teman malah mengatakan, habis hujan terbitlah pelangi. Indah kan ya kalau kita melihat itu. Pernah suatu kali pas mau berangkat ke rumah saudara, hujan besar turun. Kita memang sudah di mobil saat itu tapi ya… namanya hujan juga rasanya gimana gitu, pengennya sih balik ke ranjang terus tidur kan? Eh tapi, pas mau masuk pintu tol Cibubur, saya merasa untung tidak balik tidur. Karena saat itu ada pelangi. Walaupun dari kejauhan, pelanginya itu jelas. Pas lihat memang gak tergambarkan (lebaynya keluar nih).

Sebenarnya dalam hidup pun demikian. Beberapa kali kita mungkin melewatkan sesuatu yang indah yang seharusnya kita bisa nikmati karena kita memutuskan untuk menutup “mata” kita. Misalnya, mungkin kita melewatkan betapa beruntungnya kita yang masih bekerja saat ini karena kita melihat teman seangkatan kita memiliki karir yang lebih baik, gaji yang lebih wuah. Padahal, di luar sana, banyak yang sedang cari kerja, bahkan mereka itu lulusan dari luar negeri.

Inilah yang sering kita lakukan. Menutup mata kita dari keadaan yang ada karena kita memang tidak ingin melihatnya. Karena kita, sebagaimana manusia pada umumnya, ingin merasa dikasihani dengan keadaan kita. Bahwa kita inilah korban dari kehidupan yang kita jalani ini. Padahal, jika kita perhatikan, masih banyak yang tak seberuntung kita.

Membuka “mata”, inilah yang perlu dilakukan oleh kita agar kita dapat menyelami kehidupan dengan lebih baik lagi dan menghargai apa yang ada. Seperti yang dituliskan dalam salah satu blog yang saya baru saja follow, http://reisrei.wordpress.com/ Dia menulis tentang bagaimana hal-hal sederhana dalam hidup itu sudah ada di sana tapi hanya saja kita selama ini tak pernah menyadarinya. Padahal hal-hal inilah yang membawa kebahagiaan dalam kehidupan kita. Postingannya dapat dibaca di sini.

Membuka “mata” yang saya maksudkan bukanlah hanya dua buah mata yang kita punya. Terkadang kita pun harus membuka “mata” kita yang lainnya. Indera yang telah diberikan kepada kita selama ini adalah bagian dari “mata” kita untuk merasakan hal-hal ini. Termasuk juga “mata” hati.

Cobalah bayangkan…. Seberapa sering kita merasa bersyukur atas lampu yang masih terus menyala di rumah kita. Atau di kantor kita. Mata kita memberi kesempatan untuk melihatnya. Coba bayangkan jika kita tak bisa melihat, mungkin semua akan sama saja. Demikian juga dengan rasa asin yang kita rasakan saat makan. Pernah kan kita terburu-buru makan sup panas hingga lidah kita rasanya kelu. Di saat itu, semua makanan yang masuk sesudahnya, akan tak ada rasa.

Kehidupan di Liberia ini sangat membuat saya sadar bagaimana kehidupan di Indonesia yang selama ini saya sering caci maki dengan segala keadaan yang sepertinya tidak adil, tidak aman dan lainnya, justru ternyata kehidupan di Indonesia adalah kehidupan yang sungguh yang bagus.

Seperti itulah manusia terbiasa menyadari apa yang dimilikinya itu sebenarnya baik dan apa yang dicarinya selama ini pada saat mereka kehilangan apa yang dimilikinya itu. Tapi… it’s not to late to change… jangan biarkan kita menyadari apa yang ada di dalam hidup kita ini di saat semua itu pergi.

Tulisan ini saya buat karena saya mendapatkan kutipan yang saya suka berikut ini:

If you cry because the sun has gone out of your life, your tears will prevent you from seeing the stars – Rabindranath Tagore

 

Proyek Menulis Nulisbuku

Mari Bersenang-senang dalam Kata. Ikut #ProyekMenulis: “Letters of Happiness” Berhadiah Jutaan!
The Bay Bali dan NulisBuku.com menyelenggarakan #ProyekMenulis bertajuk Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Tulis arti ‘Happiness’ (kebahagiaan) buat kamu dalam sebuah tulisan fiksi berbentuk cerpen. Kami akan memilih 25 karya cerpen terbaik, kemudian membukukan dan menerbitkannya di nulisbuku.com, cerpen yang tidak lolos seleksi akan tereliminasi dan otomatis karya tersebut tidak akan masuk dalam buku yang akan kita terbitkan.

A. Syarat Peserta

Hanya ada 1 kategori, yaitu kategori Perorangan

Dapat diikuti oleh seluruh Warga Negara Indonesia, tanpa batasan usia, tanpa batasan jenis kelamin, tanpa batasan agama, dan tanpa batasan lokasi tempat tinggal. Setiap peserta dapat mengirimkan 1 (satu) karya tulisan terbaiknya.

B. Syarat Cerpen

Cerita pendek ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris minimal 2 halaman, atau maksimal 7 halaman A4, diketik rapi dalam file Microsoft Word spasi: 1.5, dengan font: Times New Roman, ukuran font: 11pt, dengan margin sesuai standar Microsoft Word saja, tidak perlu diubah.

Cerita pendek berupa karya fiksi yang belum pernah diterbitkan dalam media nasional mana pun (jika pernah diposting di blog atau FB notes masih boleh), dan merupakan karya asli penulis. Dengan mengikuti lomba ini, berarti penulis menyatakan bahwa karya tersebut adalah murni karya aslinya dan jika ada tuntutan pelanggaran hak kekayaan intelektual maka akan menjadi tanggung jawab penulis.

Judul tulisan bebas, dengan tetap sesuai dengan tema: “Happiness”. Silakan mengartikan sendiri tema tersebut sesuai dengan imajinasi.

C. Cara Berpartisipasi

Menulis cerita pendek sesuai tema “Happiness” yang sudah diketik rapi dalam file Microsoft Word.
Kirimkan cerpen tersebut beserta data diri: Nama, Alamat, No. handphone, No. KTP (Atau kartu pelajar), Twitter account (Jika ada), Alamat facebook (Jika ada), ke alamat email:send@nulisbuku.com (berupa file lampiran- attach files, bukan di body email) dengan format subject email dan nama file sebagai berikut: [PROYEK MENULIS] – [Judul tulisan]– [Nama Penulis]. Contoh: PROYEK MENULIS – Sepotong Senja untuk Bidadari – Windy Sundari.
Setiap penulis dimohon juga membuat paragraf singkat maksimal 5 (lima) kalimat untuk memperkenalkan diri, untuk profil penulis di dalam buku “Letters of Happiness”. Kami sarankan penulis mencantumkan akun Twitter-nya masing-masing karena bisa jadi saran contact pembaca atau penerbit yang tertarik atas karyamu. Profil singkat ini boleh ditulis di badan email atau pun di dalam naskah cerpennya, kedua cara tersebut tidak masalah.
Masukkan/posting tulisan (cerpen) ke dalam blog pribadi-mu dengan mencantumkan teks berikut ini: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! (dengan tulisan The Bay Bali yang di link ke website: http://www.thebaybali.com).
Wajib menyertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.
Tiap cerita harus memasukkan satu setting cerita yang berada di The Bay Bali (bisa tentang food/beverages restoran di The Bay Bali, beach activities, dan lainnya. Hal ini akan mempengaruhi penilaian. Semakin detail peserta menggambarkan The Bay Bali, akan semakin baik)
Peserta diijinkan menggunakan foto-foto The Bay Bali yang ada di facebook page The Bay Bali atau di website http://www.thebaybali.com sebagai gimmick tulisan yang dimuat di blog peserta.
Wajib Follow & mention akun Twitter @TheBayBali dan @nulisbuku, kemudian silakan twit sinopsis tentang karya cerpenmu minimal sebanyak 3 (tiga) kali twit; jika 1 twit itu maksimal 140 karakter, maka 3 kali twit, maksimal adalah 140 x 3= 420 karakter. Twit-twit ini berguna untuk mempromosikan cerpenmu yang telah dikirim tersebut. Jangan lupa twitnya dengan hashtag #ProyekMenulis
Untuk mengikuti kompetisi ini tidak dipungut biaya, GRATIS!
Pengumuman para finalis dan pemenang & penyerahan hadiah akan dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 26 April 2014 di acara launching buku ‘Letters of Happiness’ di The Bay Bali.
D. Periode #ProyekMenulis

Dimulai hari Kamis, 27 Maret 2014 dan ditutup pada Rabu, 16 April 2014 pukul 23.59 WIB. Karya diposting di blog dan dikirimkan melalui email ke send@nulisbuku.com. Sertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.

E. Pemilihan Pemenang

Pemenang terdiri dari 3 pemenang utama dan 22 finalis. Seluruh tulisan yang masuk akan dinilai berdasarkan faktor-faktor sbb:

Kesesuaian isi tulisan dengan tema.
Originalitas.
Plot dan diksi.
Teknik penulisan yang menarik dibaca.
Setting yang sesuai dengan syarat lomba.
Pemenang akan dipilih oleh juri yaitu tim Nulisbuku.com. Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

F. Pengumuman Pemenang

3 orang pemenang utama dan 22 finalis terpilih akan diumumkan pada hari Sabtu, tanggal 26 April, 2014 di acara launching buku ‘Letters of Happiness’ sekaligus writing workshop di The Bay Bali: BTDC area, Lot C-0, Nusa Dua – BALI. 80363.

note: Untuk kamu yang sudah pernah self-publish buku di nulisbuku.com bisa mengirimkan bukunya ke The Bay Bali untuk dipajang atau dijadikan gift pada saat workshop tersebut!

G. Hadiah Pemenang

Pemenang pertama akan memperoleh uang tunai sebesar Rp 2.000.000 (Dua Juta Rupiah)
Pemenang kedua akan memperoleh uang tunai sebesar Rp 1.000.000 (Satu Juta Rupiah)
Pemenang ketiga akan memperoleh uang tunai sebesar Rp 500.000 (Lima Ratus Ribu Rupiah)
Pemenang 1, 2 dan 3 serta 22 finalis lainnya akan mendapatkan 1 eksemplar buku tersebut secara gratis dari nulisbuku.com.
Atas penerbitan buku ini, para pemenang dan finalis tidak menerima kompensasi berupa royalti karena hasil penjualan buku akan dikelola oleh pihak The Bay Bali untuk kegiatan sosial yang terpilih.

H. Lain-Lain

Hak cipta karya yang masuk dalam #ProyekMenulis Letters of Happiness ini berada di pihak The Bay Bali. Seluruh karya akan melalui proses editing dan setting oleh Nulisbuku sebelum buku kumcer ini diterbitkan.

Lomba ini diselenggarakan oleh The Bay Bali & NulisBuku.com.

Memilih Pekerjaan itu…

Susah mendapatkan pekerjaan – ucap seorang lulusan S2 dari universitas ternama

So far, saya masih enjoy dengan perusahaan saya bekerja. Lagipula, sekarang ini gak gampang mendapatkan pekerjaan – ujar seorang staff senior yang telah bekerja di sebuah bank ternama

Apakah kamu termasuk di antara dua di atas atau termasuk:

Mendapatkan pekerjaan itu gampang, yang penting adalah kita tahu kemampuan kita – ujar seorang lulusan S1 universitas menengah

Mencari pekerjaan baru itu mudah jika kita tahu trik-nya – ujar staff senior

Well, kedua tipe kutipan di atas itu benar kok, tidak ada yang benar, tidak ada juga yang salah. Mencari pekerjaan itu memang tidak mudah tapi jika kita mengerti, maka mencari pekerjaan itu sangat mudah. Peluang untuk bekerja itu selalu ada kok, di mana saja dan dari mana saja. Entah itu dari saudara, dari tetangga ataupun dari website lowongan kerja. Kita bisa cari kok.

Nah… kenapa sudah lama tidak posting, tiba-tiba saya bicara soal pekerjaan? Karena saya dimintai bantuan oleh teman untuk mencarikan karyawan. Sebuah peluang kerja yang menurut saya sih bagus. Namun ya itu… dari sisi saya malah sulit mendapatkan yang cocok untuk diberikan ke teman.

Terus saya tadi membuka website pencari kerja yang memberikan list pekerjaan yang kira-kira cocok untuk saya. Pas saya klik salah satunya, saya melihat sebuah kriteria yang cukup sulit dicapai. Jadilah saya terpikir… kenapa tidak membuat postingan terkait ini?

Ok… jadi setelah ngalur ngidul kayak gini, sebenarnya postingan kali ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan jika kita sebagai calon karyawan perlu pertimbangkan dalam membangun karir kita.

1. Pikirkan Masa Depan

Maksud saya di sini adalah jauh sebelum memutuskan untuk bekerja, bear in mind, apa yang diinginkan dalam garis karir. Dalam bidang apa kamu ingin bekerja? Apakah pembukuan, perpajakan, ataukah operasional perusahaan – ini sangat beragam loh. Bisa saja kamu jadi pilot. Bisa jadi peragawan. Bisa jadi penari. Apapun…. Nah… kembangkan pikiran ini jauh sebelum kamu memutuskan memilih jurusan dalam kuliah.

2. Gambarkan karir path yang diinginkan

Dalam bekerja, kita sudah memiliki gambaran, apa yang kita inginkan. Misalnya ingin menjadi manager dalam waktu 5 tahun kerja, pasti kita akan bisa. Yang terpenting adalah pikirkan apa yang perlu kita lakukan untuk menggapainya. Buatlah PETA KARIR sejak awal pertama kali. Pahami jalur karir di perusahaan itu, apakah mungkin menggapainya atau tidak.

3. Perbanyak kualifikasimu

Dalam setiap karir yang dipilih, kita pasti diminta memenuhi kualifikasi tertentu. Apakah sertifikasi ataukah kemampuan lainnya. Perbanyaklah semuanya. Dapatkan sertifikasi demi sertifikasi yang diperlukan untuk mencapai PETA KARIR yang sudah disiapkan itu. Contoh: jika kamu ingin mendapatkan karir di auditing, persiapkan diri untuk mendapatkan sertifikasi seperti CIA, CISA, CPA dan lainnya yang akan sangat berguna untuk mendapatkan karir yang diimpikan itu. Pelajari dari awal.

4. Jangan Menahan Diri

Jangan sekali-sekali menahan diri untuk mengundurkan diri. Jika memang perusahaan tempat bekerja sekarang ini tidak memungkinkan kita untuk menggapai karir impian, jangan pernah menahan diri dalam KOTAK KENYAMANAN sebagaimana disebutkan dalam salah satu kutipan di atas. Percayalah, semua itu hanya ada dalam pikiran kita. Masalah kenyamanan itu hanya akan menahan diri kita untuk berkembang. Jika memang dirasakan perlu mencari lingkungan baru, cobalah mencari peluang di luar sana.

5. Kenali Diri

Ini sebenarnya merupakan hal penting yang sering dilupakan oleh siapapun dalam melakukan pekerjaan apapun, tidak hanya dalam mencari kerja. Sebelum memulai apapun, satu hal yang perlu kita lakukan adalah mengenali diri kita sendiri. Kemampuan kita – kekurangan kita. Kenali diri kita semaksimal mungkin. Perbaiki apa yang perlu diperbaiki hingga kita dapat menggapai karir yang diinginkan.

Apakah mungkin menjadi manager dalam waktu 5 tahun sejak kita bekerja di sebuah perusahaan? MUNGKIN. Semua manager itu pasti berawal dari staff kan? Jadi kenapa kita tidak memiliki impian itu? Tapi sebelum menjadi Manager di sebuah perusahaan, ada perlunya kita menjadi MANAGER DIRI SENDIRI (nantilah ya dibahasnya yang satu ini).

Jika kita sudah memiliki PETA KARIR sejak awal, saya yakin, kita akan dapat menggapainya dengan baik. Seperti dalam 7 Habits, semua berawal dari VISI dan MISI yang jelas, yang kemudian kita jelaskan dalam tahapan demi tahapan yang perlu kita lakukan – Habit 2 – Begin with the end of mind

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,749 other followers