Skip to content

Berdoa semoga tak seperti itu ke mama.

Makasih ya ma… Untuk semua yang dah mama lakukan.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10152342526526805&id=300530356804 – with Ibu at The Plaza Semanggi

View on Path

7 years of….

Woahhh. Apparently i have been create this blog for 7 years now. But active in this blog i think only for the last 3 years.

IMG_4827.PNG

Happy anniversary my blog.

I am sorry if I’m not as active as i want to be. Especially for the last one year. Hikss.

Your Path

leave your legacy

Saat kita dilahirkan di dunia ini, kita diibaratkan sebuah buku kosong. Bahkan tanpa nama hingga orang tua kita memberi kita sebuah nama terindah.

Dan selama perjalanan hidup, kita mulai menuliskan bab demi bab kehidupan kita. Perlahan. Tapi pasti. Buku itu mulai terisi.

Mulai dari kejadian-kejadian bahagia. Kejadian sedih. Kejadian yang membuat kita stress. Segalanya. Satu demi satu mulai kita tuliskan dalam satu rangkaian panjang.

Dan…

Pada akhirnya… Buku ini akan menjadi warisan utama kita kepada keturunan kita. Baik atau buruk. Semuanya.

Jejak demi jejak yang terserak (meminjam judul blog dan bukunya mas Jampang) membentuk alur yang jelas.

Seperti apakah jejak itu sekarang? Alur sepeti apakah yang saat ini sudah terbentuk? Apakah alur yang memang kita ingin tinggalkan sebagai warisan?

Salah satu aplikasi yang saya gunakan saat ini adalah Path. Saya suka aplikasi ini. Kenapa. Karena sama seperti konsep yang saya tuliskan di atas.

Aplikasi ini sebenarnya untuk meninggalkan jejak demi jejak kita dalam hidup ini. Dan kepada siapakah kita membagi jejak itu. Semua di sana.

Marilah. Tinggalkan jejak yang sesuai keinginan kita. Seperti apakah kita ingin dikenang kelak orang yang kita sayangi.

IMG_3342.JPG

Value

Gak sayang yah tuh duit???

Berapa sering mendengar pertanyaan di atas kepada dirimu saat ingin membeli sesuatu? Ataupun mungkin pertanyaan itu yang kita ajukan sendiri ke orang lain?

Pertanyaan itu pernah diajukan kepada saya ataupun sebaliknya. Misalnya saat seorang teman membeli sebuah baju bernilai hampir 300.000 sepotongnya, saya mempertanyakan hal itu kepada dia.

Dan juga ada teman mempertanyakan hal yang sama saat saya menikmati makan malam di salah satu resto yang sebenarnya namanya juga bukanlah resto kelas satu.

Wajar…
Itu yang saya pikirkan sekarang. Wajarnya pertanyaan itu. Kenapa? Karena masing-masing memiliki kepentingan berbeda, pengalaman berbeda, kapasitas berbeda.

Misalnya. Bagi teman saya, membeli baju seharga itu bukanlah hal yang aneh. it’s not a big deal karena dia memang sering membeli pakaian dengan harga lebih mahal. Dan menurut pengalaman pribadinya, mengeluarkan uang sedemikian mahal untuk itu bukanlah menghambur-hamburkan uang.

Melainkan juga karena tuntutan pekerjaannya sebagai Manajer di salah satu perusahaan swasta ternama di Jakarta (yah walau gak semua manajer seperti ini ya).

Sedangkan dalam kasus saya. Menghabiskan uang cukup besar untuk makan malam. Jujur… Dulu saya merasa sayang mengeluarkan uang sedemikian besar hanya untuk makan malam (yang tak lama akan keluar lagi dari perut kita).

Tapi…
Sekembalinya dari negeri sana, saya merasakan kerinduan amat dalam akan makanan Indonesia. Dan juga makan malam bersama keluarga atau teman-teman.

Bukanlah makanannya yang saya utamakan sebenarnya. Tapi kembali lagi adalah kepada kesempatan makan bersamanya.

Salah satu tujuan saya mengambil pekerjaan sampai sejauh itu tak lain dan tak bukan adalah karena ingin membahagiakan keluarga, terutama Ibu saya. Jadi salahkah jika ingin melihat Ibu tersenyum dan kebersamaan dengan kakak-kakak setelah sekian lama?

Terus apa sih yang dibahas di sini???

Yang ingin saya katakan adalah seperti judul tulisan ini. Masalah Value atau Nilai sebuah barang ataupun kegiatan terhadap diri kita.

Dalam menghabiskan uang yang sudah kita peroleh dengan susah payah, setiap orang memiliki value masing-masing. Berbeda.

Seperti contoh di atas. Baik saya dan teman saya memiliki value yang berbeda tentang menghabiskan uang atas baju dan juga makan malam.

Contoh lainnya misalnya adalah mengeluarkan uang 20.000 untuk ojek dibandingkan dengan 3.000 untuk busway misalnya. Tiap orang akan memilki value berbeda.

Orang yang memiliki range gaji yang sama pun bisa memilki value yang berbeda. Bisa jadi tergantung pada keadaan saat itu terjadi. Si A dan B memilki range gaji yang sama. Kondisi keluarga yang sama – anggap saja tetanggaan. Namun bagi A, mengeluarkan uang 20.000 untuk ojek adalah pemborosan.

Dia lebih suka mengeluarkan 20.000 untuk hal lainnya. Sedangkan bagi B, hal itu bukanlah pemborosan. Setelah ditelusuri, ternyata saat ditanyakan masalah value ini, B sedang terburu-buru ke kantor karena bangun kesiangan. Bisa dipotong gajinya kalau telat. Sedangkan si A tidak.

Gimana? Pusing gak? Saya sendiri agak pusing jadi mau nulis apa. Hahahaha.

Intinya sih… Janganlah kita sekali-kali menilai seseorang boros atau tidak jika kita sendiri tak paham kondisi yang dialaminya dan value yang diterimanya. Setiap orang memiliki value masing-masing. Jangan disamakan.

Dan sekali lagi dengan tulisan ini bukan berarti saya mendukung pengeluaran uang tak terbatas dan tak terkendali ya.

Saya menganjurkan agar kita mengeluarkan uang yang menurut kita sepadan dengan nilai yang kita peroleh.

What is the value i received from this? Worth or not???

Berbagi Pengetahuan

Di saat kita berkeluh kesah akan hidup kita yang jelek nasibnya di Jakarta ini, mereka yang di Sumba baru saja mendapatkan listrik dengan teknologi buatan sendiri. Kesempatan membaca mereka terbatas karena kurangnya buku berkualitas. Mereka bersekolah tanpa sepatu.

Apakah pantas kita berkeluh kesah dibandingkan mereka?

Ataukah kita pantas bersyukur bahkan membantu mereka dalam membuka diri mereka dalam pengetahuan.

Buku2 yang bagi kalian tak berguna mungkin sangat berguna bagi mereka. Masih ada waktu hingga akhir bulan ini.

Berbagi untuk mereka. Berbagi untuk Indonesia yang lebih baik. – at Jakarta Barat

View on Path

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,981 other followers